Penulis Sasi Indudewi Soroti Tekanan Batin Akibat Tradisi Mudik Lebaran
Penulis Sasi Indudewi menyoroti sisi lain dari tradisi mudik Lebaran. Ia menyebut perjalanan pulang kampung sering memicu tekanan batin bagi banyak orang.
Di balik kehangatan, ada kelelahan fisik dan mental yang jarang diakui. Setiap musim Lebaran, jutaan orang melakukan perjalanan menuju kampung halaman.
Data beberapa tahun terakhir menunjukkan angka pemudik bisa melampaui 120 juta jiwa. Angka besar ini sering diartikan sebagai keberhasilan mobilitas dan kuatnya tradisi keluarga.
Namun, Sasi Indudewi mempertanyakan berapa banyak pemudik yang pulang dengan hati benar-benar ringan. Perjalanan panjang, macet berjam-jam, serta jadwal tidak pasti bukan sekadar persoalan teknis.
Tubuh yang dipaksa tetap terjaga dalam kondisi lelah membuat seseorang lebih rapuh dan mudah emosi. Dalam ruang keluarga, kerentanan itu sering bertemu dengan berbagai ekspektasi.
Mudik bukan hanya soal pulang, tetapi juga soal "menjawab" pertanyaan seputar pekerjaan, pasangan, atau pencapaian hidup. Pertanyaan-pertanyaan tersebut, meskipun dimaksudkan sebagai perhatian, sering terasa seperti penilaian.
Tidak semua orang pulang dalam kondisi siap, ada yang masih berjuang atau hanya ingin beristirahat dari kerasnya hidup di kota. Menurut Sasi Indudewi, di titik inilah mudik bisa berubah menjadi ruang yang ambigu.
Bahkan, ia menyebut mudik bisa terasa seperti ruang ujian bagi sebagian orang. Seseorang yang datang dengan harapan diterima apa adanya justru dihadapkan pada standar yang tidak selalu bisa dipenuhi.
Kesehatan mental menjadi aspek yang sering terabaikan dalam dinamika ini. Fokus terlalu besar pada keselamatan perjalanan, padahal perjalanan batin juga membutuhkan perhatian.
Sasi Indudewi menekankan pentingnya menyadari dampak psikologis dari tradisi mudik.
***