Pulau Greenland berada pada wilayah otonom Kerajaan Denmark, ia bukan bagian dari anggota Uni Eropa, meskipun memiliki hubungan yang sangat erat dengannya.
Apabila Greenland merdeka sepenuhnya, atau berpindah kepemilikan ke negara lain, misalnya AS atau China, maka Eropa akan kehilangan pengaruh strategis besar. Karena Greenland pada prinsipnya menjadi bagian penting dalam sistem pertahanan NATO.
Pangkalan militernya seperti Thule Air Base, itu sangat krusial untuk deteksi rudal dan pertahanan udara NATO dan Eropa. Untuknya Eropa ingin memastikan kawasan ini tetap berada di blok Barat, bukan jatuh ke pengaruh rival.
Persaingan kekuatan dunia yang selama ini banyak di dominasi oleh Amerika Serikat, menjadikan AS semakin suka bersikap sewenang-wenang pada negara-negara lain. Dan hasrat menggebu-gebunya yang ingin menjadi Polisi Dunia, telah terbukti menimbulkan banyak negara-negara lain sebagai korban.
Sudah terlalu banyak negara-negara lain yang porak poranda akibat turut campurnya AS dalam urusan dalam negerinya. Sebut saja misalnya Indonesia di akhir Orde Lama, kemudian Vietnam, Afghanistan, Irak, Libya, Suriah, Yaman, Palestina, Lebanon dan terakhir Venezuela.
Beruntung sekali jika ada negara yang terus diganggu oleh AS seperti Iran, namun masih bisa terus bertahan bahkan alutsistanya semakin canggih dan membuat dunia terperangah, ketika Iran menghajar Israel dengan rudal-rudal jarak jauhnya.
Eropa dan NATO sangat mengerti akan hal ini, dan mereka tidak ingin menjadi korban terakhirnya. Karena itu Eropa dan NATO mulai bersikap tegas pada AS dan mengancam akan menyerangnya, jika AS di bawah kepemimpinan presiden idiot Donald Trump, nekat mencaplok Greenland !
Menarik sekali bukan, sebab ini akan merubah peta politik dunia, dimana NATO tak lagi mesra dengan AS yang selama ini menjadi mitra politik, ekonomi dan militernya. Sapere aude !...(Reporter- Fiyan).